Perkembangan teknologi menciptakan peluang bisnis di semua sektor, tidak terkecuali industri manufaktur. Akibatnya, persaingan bisnis manufaktur sudah seperti “samudera merah”, yang merupakan medan persaingan antar satu industri dengan industri lainya.Persaingan bisnis yang sangat ketat menuntut industri-industri manufaktur untuk terus meningkatkan hasil produksinya, memberikan produk dengan kualitas tinggi, harga yang serendah mungkin, hingga kepuasan konsumen.Berangkat dari permasalahan tersebut, muncul gagasan “lean manufacturing” sebagai jalan keluar. Lean adalah suatu upaya untuk terus menerus menekan –atau bahkan menghilangkan- pemborosan (waste) dengan tetap meningkatkan nilai tambah produk dan memberikan nilai kepada pelanggan.Konsep lean muncul tidak terlepas dari kondisi di lapangan yang terjadi banyak waste (pemborosan). Tingginya tingkat waste ketika proses produksi menjadi hambatan yang sangat besar bagi industri untuk berkembang dan bersaing dengan industri-industri lainya. Dengan strategi lean, industri-industri diharapkan dapat menekan waste hingga titik yang serendah mungkin.
Pengertian Waste Dalam Lean Manufacturing
Dalam buku “Lean Six Sigma”, Vincent Gaspersz menjelaskan bahwa waste merupakan segala aktivitas kerja yang tidak memberikan nilai tambah pengolahan bahan baku selama value stream (membuat, memproduksi, dan menyerahkan produk baik barang dan atau jasa ke pasar).Dari pengertian diatas, maka bisa dikatakan bahwa waste merupakan “sampah” yang perlu dibuang (dihilangkan) karena hanya menjadi beban bagi perusahaan, mengurangi keuntungan bahkan bisa menyebabkan kerugian.Pemborosan dalam value stream tidak hanya beratan tentang material yang terbuang, tetapi termasuk juga sumber daya yang lebih luas lagi. Selama ada sumber daya yang terbuang dan tidak memberikan nilai tambah pada produksi, maka bisa dikatakan bahwa sumber daya tersebut telah terjadi pemborosan.Jenis-Jenis Waste
Fokus utama dari strategi lean adalah menekan serendah mungkin. Bahkan kalau bisa hingga zero waste -tidak terjadi pemborosan sama sekali-. Karena itu, pemilik usaha perlu memahami jenis-jenis waste yang sering terjadi.Menurut Taiichi Ohno, bapak sistem produksi Toyota, ada 7 jenis waste yang sering terjadi dalam proses produksi yang sering disingkat menjadi “TIMWOOD”:Waste of Transportation (pemborosan transportasi)
Pemborosan transportasi sering terjadi karena desain tata letak produksi yang tidak efisien, sehingga memerlukan proses pemindahan barang dari satu unit kerja ke unit kerja yang lain. Sebagai contoh, penempatan ruang produksi yang jauh dari QA (Quality Assurance) sehingga butuh proses memindahkan barang yang menghabiskan waktu. Akibatnya, jumlah produksi berkurang / butuh tenaga tambahan yang tidak perlu.Beberapa dampak lain dari pemborosan transportasi adalah penggunaan floor space yang tidak efisien, komunikasi yang terlalu panjang, meningkatnya work in progress (WIP), serta potensi kerusakan produk ketika proses pemindahan.
Waste of Inventory (pemborosan stok)
Pemborosan ini sebenarnya berhubungan dengan pemborosan produksi berlebih (overproduction). Sebaliknya, berlebihan stok barang juga bisa menjadi indikasi terjadinya overproduction. Biasanya, hal ini dikarenakan stok / persediaan yang terlalu berlebih dari kebutuhan produksi yang seharusnya.Bila terjadi pemborosan stok maka jumlah barang jadi (finished goods), barang setengah jadi (wip), dan bahan mentah menjadi terlalu banyak. Konsekuensinya, perlu pengadaan tempat penyimpanan yang lebih banyak juga. Bila tidak ada space, perusahaan harus menyewa / membangun gudang baru, serta tambahan SDM untuk melakukan penjagaan, pengawasan, pengangkutan/transportasi, serta administrasi.Dampaknya, biaya produksi akan membengkak dan tidak sebanding dengan income yang didapat. Jika pemborosan dalam tingkat yang parah, justru bisa menyebabkan kerugian. Bila barang yang diproduksi memiliki masa kadaluarsa yang pendek, maka barang yang terlalu lama disimpan akan dekat dengan masa kadaluarsa ketika dipasarkan.
Waste of Motion (pemborosan gerakan)
Pemborosan gerakan terjadi karena adanya pergerakan/aktivitas SDM maupun mesin yang tidak diperlukan karena tidak memberikan nilai tambah pada produk. Sebagai contoh, peletakan alat kerja yang jauh dari jangkauan operator produksi, sehingga ketika bagian produksi membutuhkan itu maka harus mengambil dalam waktu yang lebih lama.Pemborosan gerakan, akan berdampak pada aliran produksi yang terganggu karena penggunaan waktu yang tidak efisien. Lebih panjang lagi, waktu produksi tentu akan meningkat. Selain itu, juga meningkatkan potensi terjadinya kecelakaan kerja yang tidak diperlukan.
Waste of Waiting (pemborosan waktu menunggu)
“Waktu adalah uang”. Peribahasa tersebut sangat terasa sekali dalam sebuah perusahaan produksi barang. 1 detik saja memiliki nilai yang besar bila digunakan secara produktif. Namun bila ada waktu dimana SDM/mesin tidak beroperasi melakukan kegiatan produksi karena menunggu barang dari bagian lain, maka ini dikatakan sebagai pemborosan waktu menunggu.Idealnya, dalam sebuah proses produksi mesin dan SDM terus berjalan untuk memproduksi barang. Sehingga jumlah produksi harian akan meningkat dan ini akan menjadi keuntungan bagi perusahaan, karena biaya produksi tentu akan terus berjalan dari waktu ke waktu.Pemborosan waktu biasanya terjadi karena adanya supply komponen yang terlambat datang (bisa juga disebabkan adanya pemborosan transportasi), menunggu proses berjalanya mesin, hilangnya alat kerja ataupun menunggu keputusan atau informasi.
Waste of Over Processing (Proses yang berlebihan)
Tidak semua proses produksi mampu memberikan nilai tambah pada produk maupun pelanggan. Sebagai contoh adalah rework / perbaikan hasil kerja sebelumnya, approval yang bertele-tele, ataupun proses inspeksi yang berulang kali.Dampak dari pemborosan ini tentu waktu produksi yang menjadi semakin panjang. Pengusaha harus memikirkan bagaimana cara menghasilkan produk yang memiliki kualitas tinggi, tetapi dengan proses yang efisien dan tidak bertele-tele.
Waste of Overproduction (Produksi yang berlebihan)
Produksi barang yang berlebihan memiliki kaitan erat dengan pemborosan-pemborosan selainya. Bila terlalu banyak barang yang diproduksi, maka juga akan berdampak pada pemborosan lainya seperti inventory dan motion. Produksi yang berlebih bisa terjadi karena tidak memperhatikan permintaan pasar,sedangkan di lain sisi produksi dilakukan dengan sangat cepat. Pemborosan ini akan berdampak pada biaya produksi yang membengkak, stok yang berlebihan, potensi kerusakan produk yang tinggi, serta meningkatnya space utilization.
Waste of Defect (Kerusakan produk)
Pemborosan kerusakan produk terjadi ketika adanya produk yang rusak ketika proses produksi atau tidak lolos screening kualitas, sehingga tidak bisa dilempar ke pasaran. Beberapa produk masih bisa dilakukan proses perbaikan. Namun, perusahaan harus mengeluarkan biaya tambahan serta tenaga SDM untuk perbaikan tersebut.Beberapa dampak lainya adalah pemborosan waktu dan staffing SDM yang dapat mengganggu perencanaan produksi awal. Bila barang sudah terlanjur tersebar di pasaran, ini akan mengakibatkan dampak yang sangat fatal bagi perusahaan, dimana kepercayaan konsumen akan berkurang.

Tanya Expert Kami