Perusahaan yang berinteraksi dengan banyak sektor apalagi dari luar negeri pasti akan selalu berurusan dengan mata uang asing. Proses pembayaran harus menyesuaikan dengan nominal setelah mata uang dikonversi menjadi mata uang negara tujuan. Utamanya perusahaan yang banyak mengekspor produk atau mengimpor bahan baku dari luar negeri.Ternyata, dalam dunia akuntansi, penggunaan mata uang yang beragam karena kegiatan bisnis dibahas dalam satu topik besar bernama Foreign Exchange Exposure (FEE) lho! FEE atau dalam bahasa Indonesia disebut sebagai Eksposur Nilai Tukar adalah sebuah risiko yang bisa dirasakan perusahaan karena fluktuasi nilai kurs.Perusahaan-perusahaan yang sering melakukan transaksi luar negeri baik pembelian maupun penjualan pasti selalu menyediakan berbagai langkah mitigasi untuk mengurangi risiko perubahan nilai mata uang tersebut. Misalnya dengan memilih rekanan dari negara yang mata uangnya stabil atau melakukan transaksi ketika nilai kurs dasar menguat.
Faktor Economic Exposure
Secara rinci, terdapat beberapa faktor utama yang mempengaruhi Economic Eksposur. Tentu faktor-faktor berikut ini tentu menjadi pertimbangan dasar agar resiko bisa diminimalisir. Faktor-faktor tersebut antara lain,- Target penjualan perusahaan baik dalam maupun luar negeri. Tentu, meminimalisir eksposur ekonomi bisa dilakukan dengan mengurangi penjualan luar negeri atau lebih selektif dalam melakukan penjualan baik dari segi waktu dan kuantitas.
- Kompetitor terbesar perusahaan apakah perusahaan dalam atau luar negeri. Adalah hal umum bila perusahaan akan selalu menguasai pasar dalam negeri terlebih dahulu. Namun, beberapa perusahaan mungkin saja memiliki pasar yang lebih kuat di luar negeri karena produk mereka bisa lebih diterima. Perusahaan tersebut mau tak mau harus menganalisis apakah keuntungan yang didapat sebanding dengan risiko ekonomi eksposurnya.
- Letak pabrik perusahaan atau letak produksi perusahaan, dalam atau luar negeri. Perusahaan yang memproduksi barangnya di luar negeri tentu harus lebih hati-hati dalam memilih negara. Perusahaan juga harus mempertimbangkan apakah lebih baik memproduksinya di luar negeri atau mengimpor bahan-bahannya saja. Tentu ada banyak variabel lain yang juga perlu ditertimbangkan seperti gaji, kualitas tenaga kerja, serta aspek regional lainnya.
- Bahan baku utama dan cadangan apakah impor atau tidak. Memproduksi produk dengan bahan baku khusus tentu akan menghasilkan produk yang unik berbeda dengan para kompetitor. Namun, risiko eksposur ekonomi juga harus dipertimbangkan apalagi bila perusahaan hanya bergantung pada satu supplier bahan baku saja. Bila tak memikirkan supplier cadangan, maka bukan hanya eksposur ekonomi, sustainabilitas perusahaan juga bisa terganggu.
- Harga yang digunakan, apakah harga domestik atau harga dunia. Tentu faktor ini sangat berpengaruh dan perusahaan harus konsisten dalam menentukan acuan harga yang digunakan. Dengan begitu, penghitungan laba rugi juga bisa dibuat lebih tepat.
Jenis Eksposur Nilai Tukar
Secara umum, terdapat tiga jenis eksposur ekonomi yaitu operating exposure, transaction exposure, dan accounting exposure. Operating Exposure (Eksposur Operasi) atau yang juga disebut dengan competitive exposure adalah situasi dimana nilai perusahaan saat ini (present value) diukur yang dihasilkan dari perubahan arus kas karena fluktuasi di masa depan. Perusahaan manapun yang memiliki pendapatan serta pengeluaran dalam bentuk mata uang asing akan memiliki operating exposure.Sedangkan transaction exposure adalah mengukur perubahan nilai transaksi karena berbedanya nilai kurs sebelum dan sesudah transaksi dilakukan. Eksposur ekonomi jenis ini paling dirasakan dampaknya ketika transaksi dilakukan secara kredit baik hutang maupun piutang. Yang terakhir adalah accounting exposure atau dikenal juga dengan nama Translation Exposure (Eksposur Translasi).Pengertian Translation Exposure
Translasi eksposur adalah perubahan yang terjadi karena perbedaan nilai kurs pada laporan akuntansi. Misalnya adalah laporan keuangan anak perusahaan di luar negeri harus dilaporkan kembali dalam mata uang yang digunakan oleh perusahaan induk. Tujuan dari translasi eksposur adalah melakukan konsolidasi antara anak perusahaan di luar negeri dan induk perusahaan dalam mengatasi kinerja anak perusahaan tersebut.Laporan keuangan dalam mata uang asing yang telah ditranslasi akan dikonsolidasi sehingga laporan keuangan konsolidasi bisa dibuat. Proses eksposur ini meliputi konversi mata uang hingga laporan keuangan luar negeri bisa dinyatakan dalam Rupiah (atau mata uang induk perusahaan).Tentu, hal ini bisa berdampak pada nominal kekayaan bersih, laba bersih, dan lain-lain karena nominal yang ditunjukkan bergantung dari kekuatan kurs yang digunakan induk perusahaan. Misal, induk perusahaan menggunakan Rupiah dan anak perusahaan menggunakan Dollar. Semakin kuat rupiah, maka semakin rendah nilai dari anak perusahaan. Sebaliknya, bila Rupiah melemah terhadap dollar, maka semakin tinggi nilai dari anak perusahaan yang bisa meningkatkan kekayaan induk perusahaan.Metode
Dalam melakukan translasi laporan keuangan terhadap anak perusahaan di luar negeri, perusahaan bisa melakukan dua metode utama yaitu, Metode Nilai Tukar Saat Ini dan Metode Temporal.- Metode Nilai Tukar Saat Ini
metode ini adalah metode yang paling sering digunakan karena mentranslasikan laporan keuangan berdasarkan nilai tukar saat ini. Namun, ada beberapa item yang dikecualikan seperti dividen yang menggunakan tanggal pembayaran, ekuitas menggunakan nilai tukar historis, aset, dan kewajiban.
- Metode Temporal
metode ini mentranslasikan nilai tukar aset atau aktiva serta kewajiban yang konsisten dengan waktu penciptaannya. Maksudnya adalah metode temporal tidak mengubah atribut akun namun hanya mengubah unit pengukurannya. Kas diukur berdasarkan nominal terakhir di neraca, piutang serta hutang dihitung dengan perkiraan sebesar jumlah yang harus diterima dan dibayar. Metode ini juga tidak menghiraukan inflasi lokal.

Tanya Expert Kami